Kisah di Balik Pengusaha Teri Kelas Kakap Profil

Profil

Dimulai dari bisnis ekspor ikan teri, M. Najikh berhasil melambungkan perusahaannya di level internasional dari bisnis seafood-nya. Menaungi PT Kelola Mina Laut, Beliau berhasil menjadi pengusaha kelaas kakap di Indonesia. Perusahaan pengolahasn seafood tersebut dibawanya menjadi perusahaan seafood terbesar di Indonesia.

Nama M Najikh mungkin tak asing bagi kita. Lulusan terbaik TIN 1984 ini pernah mengisi Stadium General di TIN sehingga sudah tentu kita agak banyak tahu tentang Beliau. Namun, berikut ini sedikit cerita masa lalu beliau yang penulis dapat dari cerita beliau. Lahir di desa Karangrejo, Manyar, Gresik, M Najikh dibesarkan oleh keluarga penjual ikan. Awalnya, usaha tersebut mampu memenuhi keluarga M Najikh. Saat M Najikh akan mengakhiri study-nya di SMA, kondisi itu berubah. Usaha keluarganya mengalami penurunan karena rendahanya harga dan  pasokan ikan saat itu.
Sebagai anak sulung, M Najikh sempat ingin berhenti dari sekolahnya dengan alasan ingin membantu usaha orang tuanya. Pasalnya, untuk menuju sekolahnya saja, M Najikh harus mengeluarkan biaya. Jarak SMA-nya (SMAN 1 Gresik) sekitar 25 km dari rumahnya. Ia harus menempuh perjalanan 1 jam jika menggunakan angkot.
Namun, keinginan M Najikh itu ditentang orang tuanya. Selain kepintaran M Najikh, eman (sayang) jika ia berhenti karena ia akan menamatkan SMA. M Najikh pun menurut. Namun, persoalan tak berhenti disana, saat akhir SMA, Ia dibingungkan lagi dengan pilihan melanjutkan ke Perkaguruan Tinggi atau bekerja mambantu orang tuanya.
Sebenarnya, M Najikh lebih ingin bekerja membantu orang tuanya mengingat posisinya sebagai anak sulung dan kondisi keluarga saat itu. Namun, tanpa sepengetahuannya, guru BK di SMA-nya mendaftarnya ke IPB lewat jalur Undangan, dan ia diterima. Kebingunganpun muncul di benak M Najikh, darimana ia dapat uang untuk berangkat ke Bogor jika ia mangambilnya.
Setlah berkonsultasi dengan kelarga dan gurunya, kahirnya Ia mengambil kesempatan kuliah di Bogor. Ia hanya meminta bantuan ornag tuanya untuk membiayainya pergi ke Bogor saja, titik. Untuk hidup disana, akan menjadi urusan dia disana, begitu tekad M Najikh. Dengan pinjaman dari keluarga dan uang sekolah adik-adiknya, M Najikh akhirnya berangkat ke Bogor.
Di IPB, M Najikh belum merasa tenang, Ia harus berusaha untuk survive. Ia kemudian mencoba untuk melamar menjadi pengajar privat, bimbingan belajar, hingga menjadi guru SMA. Semua ia lakoni sambi tetap menjalankan kuliah dengan baik. Untungnya, dosen di TIN dapat memaklumi kesibukannya tersebut. Kerja keras tersebut ia lakoni dan berhasil membuatnya tetap survive. Bahkan, Ia mampu mengirim uang ke keluarganya di desa. 
Meski dengan kesbikuan mengajar yang padat, M Najikh tetap berprestasi. Beliau merupakan teman sekelas dari Pak Marimin (dosen kita). Pak Marimin merupakan saingan berat Najikh dalam mengejar nilai. Tekad M Najikh memang tinggi, ia akan selalu mengejar menjadi yang nomor satu dimanapun, apalagi di kelas. Hingga akhirnya, ia pun menjadi lulusan yang terbaik di TIN di bawah bimbingan Prof Eriyanto.
Setelah lulus, M Najikh masih dibingungkan juga dengan masa depannya. Mau menjadi apa ia nanti. Pilihan menjadi guru dan dosen sempat terlintas. Tapi ia tahu, pilihan tersebut tidak menjanjikan prospek yang baik saat itu. Meski sempat menjadi pengajar di TIN, M Najikh pun akhirnya berlabuh di perusahaan PT Karya Nusantara yang menanganu cold storage hasil ikan setelah mendapat ajakan dari temannya.
Ia memulai karir di perusahaan tersebut sebagai Branch Manager. Ia hanya berkarir selama 4 tahun karena perusahaan persero tersebut terkena masalah. Biasalah, maslaah politik perusahaan nasional. Namun, berkat kinerjanya yang apik di perusahaan tersebut, ia langsung dilirik perusahaan eksportir swasta yang juga menangani cold storage hasil ikan. Ia bekerja di PT Istana Cipta Sejahtera sebagai Bussiness Dvelopment Manager selama 4 tahun.
Sebelum M Najikh masuk, perusahaan tersebut terancam kolaps. Namun, berkat tangan dinginnya, ia berhasil menaikkan omset perushaan berkali-kali lipat. Namun, M Najikh merasa ada yang aneh di posisinya tersebut. Ia merasa tak dihargai karena tak kunjung ada promosi jabatan atau peningkatan kesejahteraan. Ia seakan dibohongi oleh bosnya. Ia pun mengajukan pengunduran diri. Meskipun ia dihalangi bosnya dan dijanjikan gaji paling tinggi, M Najikh tetap bulat untuk keluar dari perusahaan tersebut. Keluar dari sana, M Najikh berencaan membuat perusahaan sendiri. Meskipun ia belum tahu bisnis apa yang akan digelutinya.
Berawal dari orang Jepang yang ia kenal saat bekerja, ia ditawari untuk memasok ikan teri. Kesempatanpun ia ambil, meski belum ada modal di kantong.  Ia pun memutar otak, tabungan istrinya untuk beli rumah akhirnya ia pakai. Dalihnya, “Buat apa nabung lama-lama untuk beli rumah, mana uang-mu, nanti kalo mau beli, cukup 5 menit selesai.”
Namun, uang tersebut jelas tak cukup untuk memulai bisnisnya. Ia pun mengajak teman-temannya untuk patungan. Ia juga minta pinjaman ke orang Jepang tersebut. Apa jaminannya? “ini Leher Saya’” tutur Najikh.Kurang labih 100 juta berhasil Ia dapatkan dari pinjaman Jepang yang akan dicicil setiap kirim nanti. Ia kemudian membangun (lebih tepatnya menyekat) lahan di Tuban untuk dijadikan pabriknya (lebih tepatnya gudang). Yah, pasalnya, pabrik yang ia buat hanya berdinding gedek (bambu yang dianyam). Ia sempat diolok, “ini pabrik apa kandang kuda.” Olokan tesebut malah menjadi pelecut motivasi M Najikh. Ia tetap melanjutkan usahanya.
Saat itu tahun 1994, M Najikh mulai mengumpulkan teri dari nelayan-nelayan di sepanjang pantai utara. Untuk memenuhi ekspor, Ia harus mengumpulkan 1 kontainer ikan Teri, silahkan dibayangkan. Ia terjun sendiri ke nelayan, tengkulak, dan pelelalngan-pelelangan sepanjang pantai. Ia pun berhasil. Satu kontainer ikan teri berhasil ia kumpulkan dan diekspor. Biaya operasional untuk ekspor ia dapatkan dari pinjaman Bank dengan jaminan uang paman OKBnya (Orang Kaya Baru).
 Ekspor pertama, kedua, ketiga, M Najikh masih mengalami rugi. Baru tahun ekspor keempat Ia melihat peluang untung di usaha tersebut. Ia pun lebih semangat lagi menigkatkan usahanya. Hingga ia berhasil mengekspor 17.500 ton hasil ikan setelah 10 tahun berjalan. Ada yang unik dari Pak Naijkh, Ia tak memikirkan nama perusahaannya lho. Ia baru memikirkannya setelah usahanya berjalan dan dianggap perlu untuk diberi nama. Saat itu, Ia mengadakan sayembara nama dari karyawan-karyawannya. Dipilihlah nama PT Kelola Mina Laut.
Perkembangan usaha PT Kelola Mina Laut dilatar belakangi oleh sentuhan teknologi yang dberikan M Najikh. Ia tidak ingin mengekspor ikan mentah. Ia pun emberikan nilai tambah mulai berupa kemasan kaleng, cold, surimi, dan sebagainya. PT KML pun berhasil menjadikan perusahaannya berteknologi tinggi dengan tetap sebagai perusahaan yang padat karya.
Motto Pak Najikh yang samapi saat ini dipegangnya yakni
“Kalo Berani Jangan Takut Takut. Kalo takut, Jangan Berani-Berani!”
Begitulah ceritanya. Saat ini, tahu sendiri lah bagaimanna besarnya PT KML. Kalo g salah sudah ada 40 cabang dengan kantor pusat di Gresik. Omsetnya, kalo g salah juga mencapai 100  T ya. KML juga mulai merambah pasar lokal dengan produk-produk olahan seafoodnya seperti nugget, bakso, bola ikan, scallop, dan sebagainya yang dapat di dapat di Fmart dengan  brand Minaku. Siapa mau ikut?

 

lowongan prestasi travel musik keagamaan sosial hobi olah raga kesehatan barang dan jasa promosi reuni pekerjaan kuliah beasiswa alumni

Profil Penulis

Administrator

Administrator
Administrator Website alumni SMA Negeri 1 Gresik

 

Artikel Terkait

    0 Komentar Pada Artikel Ini

 

Tinggalkan Komentar